animeflv.com.co – Jujutsu Kaisen terus berkembang menjadi fenomena shonen modern, bukan hanya lewat aksi brutal para penyihir, tetapi juga tragedi karakter yang makin pekat. Sekuel barunya, yang kerap disebut Jujutsu Kaisen Modulo oleh para penggemar, memunculkan gambaran masa depan Yuji Itadori yang jauh lebih kelam dibanding apa pun yang terlihat di seri utama. Di sini, Yuji bukan lagi sekadar remaja penuh idealisme, melainkan sosok abadi yang memikul beban dunia sendirian.
Visi cerita terbaru Jujutsu Kaisen ini memperlihatkan Yuji hidup ratusan tahun, terputus dari semua orang yang pernah ia sayangi. Ia bertahan hanya demi satu tujuan: menciptakan dunia baru tanpa kutukan. Harga dari ambisi itu terasa sangat mahal. Bukan cuma fisik, tetapi juga jiwanya yang terkikis perlahan. Dari sudut pandang naratif, pilihan Gege Akutami mengarahkan Yuji menuju kesepian abadi memperkuat identitas Jujutsu Kaisen sebagai kisah tragis tentang pengorbanan yang tak pernah benar-benar dihargai.
Masa Depan Suram Jujutsu Kaisen Untuk Yuji
Jujutsu Kaisen selalu menempatkan Yuji Itadori sebagai sosok yang berpegang teguh pada kalimat sederhana: ia ingin menyelamatkan sebanyak mungkin orang sebelum mati dengan cara bermakna. Namun, sekuel yang mengisyaratkan Yuji hidup abadi justru memutarbalikkan cita-cita awal itu. Alih-alih menerima kematian penuh makna, ia dipaksa terus hidup ketika semua orang sudah tiada. Paradoks ini menambah lapisan tragedi, sebab tujuan mulia Yuji justru mengunci dirinya pada eksistensi tanpa akhir.
Dari sisi tema, langkah ini terasa seirama dengan nada gelap Jujutsu Kaisen sejak arc Shibuya. Kematian menyakitkan, pengkhianatan, serta konsekuensi keras dunia kutukan sudah lama mengikis kepolosan para karakter. Kini, ide bahwa Yuji mungkin menjadi penjaga abadi dunia baru tanpa kutukan menegaskan bahwa di semesta Jujutsu Kaisen, kemenangan selalu disertai kehilangan besar. Tidak ada kebahagiaan utuh, hanya kompromi antara harapan dan luka yang terus terbuka.
Secara personal, saya melihat masa depan Yuji seperti ini sebagai pilihan naratif berani sekaligus kejam. Banyak seri shonen memilih akhir optimistis bagi protagonis: keluarga, teman, kedamaian. Namun Jujutsu Kaisen tampaknya condong pada pola lain, mendekati tragedi klasik tempat sang pahlawan menjadi fondasi dunia yang ia ciptakan, tetapi tak pernah menikmati hasilnya. Yuji terlihat dikondisikan menjadi mitos hidup, bukan manusia biasa. Keabadian baginya bukan hadiah, melainkan penjara tak kasat mata.
Keabadian Sebagai Hukuman, Bukan Anugerah
Dalam banyak cerita fantasi, keabadian sering dipoles menjadi impian tersembunyi: kesempatan menyaksikan masa depan, belajar tak terbatas, bahkan mengubah sejarah. Namun Jujutsu Kaisen menyajikan sudut pandang berbeda. Keabadian Yuji tampak sebagai hukuman emosional. Ia menahan rasa bersalah atas kematian, memikul warisan Sukuna, sekaligus mencoba menebus dosa dengan menciptakan dunia baru tanpa kutukan. Hasilnya, hidupnya membentang panjang namun terasa kosong, diisi rutinitas perjuangan tanpa ruang pulang.
Yang membuat konsep ini menyentuh adalah cara Jujutsu Kaisen selalu mengaitkan kekuatan dengan konsekuensi. Sejak awal, jujutsu bukan seni heroik murni, melainkan alat kotor untuk mengelola kebencian manusia. Jika Yuji benar-benar bertahan ratusan tahun sebagai semacam penjaga terakhir, maka keabadiannya menjadi cermin ekstrem gagasan itu. Ia berubah menjadi wadah terakhir seluruh kebencian masa silam, agar dunia baru tumbuh tanpa perlu mengenal kegelapan yang sama.
Dari perspektif saya, ini menjadikan Jujutsu Kaisen unik di antara deretan shonen populer lain. Alih-alih merayakan keabadian sebagai puncak kekuatan, seri ini menyorot sisi paling sepi dari hidup tanpa akhir. Yuji mungkin berhasil menghapus kutukan pada akhirnya, tetapi ia kehilangan kesempatan menikmati kehidupan normal, hubungan hangat, serta penutup cerita yang damai. Ia hidup terus hanya agar orang lain dapat beristirahat. Itu bentuk pengorbanan paling senyap sekaligus paling menyakitkan.
Warisan Tragis Jujutsu Kaisen Bagi Pembacanya
Pada akhirnya, arah baru Jujutsu Kaisen membentuk semacam pesan reflektif bagi pembaca: dunia yang lebih baik sering kali dibangun oleh orang-orang yang tak sempat menikmatinya. Yuji Itadori menjadi lambang generasi yang menyerahkan segala hal demi masa depan orang lain, termasuk kebahagiaannya sendiri. Bila kisah ini benar-benar berakhir dengan Yuji terjebak dalam keabadian sunyi, maka Jujutsu Kaisen akan tercatat bukan hanya sebagai manga aksi tentang kutukan, melainkan juga sebagai elegi pahit tentang harga perubahan. Sebagai pembaca, kita diajak bertanya diam-diam: seandainya berada di posisi Yuji, apakah kita rela menanggung kesepian yang sama demi dunia tanpa kutukan, atau justru memilih hidup singkat namun hangat bersama orang-orang tersayang?

